Belajar Dari Buku

Monday, June 6, 2011

Masalah selalu ada dimana-mana, kapan saja, entah bagaimana pula bentuknya. Beraneka ragam. Kebetulan malam minggu kemarin, aku pun dihampiri masalah. Masalah yang sebenarnya tidak terlalu penting tapi cukup mengganggu.
Karena masalah itu, malam minggu terakhirku di Jakarta jadi menyebalkan. Aku marah-marah sendiri, sampai mbak-ku dan ibuku betanya.
Yasudah aku cerita.

Hal yang paling menyenangkan saat cerita ke orangtua dan kakak kandung adalah, mereka paham dengan sendirinya, mengerti bagaimana "rasanya" itu karena mereka pernah berada dalam posisiku sebelumnya dan juga yah, tahu kan.. hubungan darah itu memang luar biasa.
Selesai cerita, keduanya bilang kalau masalah-masalah seperti biarkan saja. Itu bukan masalah penting, dan sabar adalah yang paling utama. Kemudian kakakku menyarankan agar aku membaca buku saja.
Ternyata dia baru saja membeli sebuah buku. Judulnya Saga No Gabai Baachan-Nenek Hebat dari Saga. Pengarangnya Yosichi Shimada.



Karena melihatku masih uring-uringan, mbak-ku bilang untuk melihat halaman akhirnya. Katanya dihalaman tersebut ada beberapa kata-kata yang cukup bagus.

Dan aku menemukan ini:
"Saat kita dibenci itu berarti kita menonjol di antara yang lain".

Saga No Gabai Baachan sebenarnya bercerita tentang kehidupan seorang anak dari keluarga miskin Jepang paska pengeboman di Hiroshima. Ini merupakan cerita nyata dari kehidupan pengarang. Karena ibunya sibuk mencari uang setelah ayahnya meninggal, anak itu harus dititipkan pada neneknya di Saga. Mulai saat itulah kehidupannya yang miskin berubah menjadi lebih miskin.

Buku ini mengharukan sekali, tapi juga lucu dan kadang membuat perasaan jadi aneh-karena penuh ironi yang membuat kita bingung harus sedih apa ketawa ya.

“Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.”

Setelah membaca buku itu aku jadi berpikir, buat apa aku uring-uringan karena masalah sepele ya.. Bukankah, masalah itu entah sepele atau tidak tetap akan hadir. Saat kita makan, tiba-tiba sendok jatuh kebawah meja itu pun masalah bukan? Ketika jalan, kemudian sedikit tersandung batu itu juga masalah.

Masalah atau tidak masalahnya suatu masalah sebenarnya tergantung pada diri kita. Sama seperti ungkapan kebahagiaan diatas itu. Kebahagiaan dan masalah ataupun kesusahan  sebenarnya adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita. Bukan oleh siapa atau dengan apa. Tapi kita-lah alatnya bukan? Jadi ingat juga, dengan perumpamaan yang aku baca disalah satu buku, maaf aku lupa judul bukunya.

"Umpamakan masalah itu sebagai segenggam garam. Segenggam garam bila ditaburkan kedalam segelas air tawar akan membuat air tersebut terasa sangat asin cenderung pait. Tapi bagaimana jika garam tersebut dimasukkan kedalam danau yang luas dan tawar airnya? Akankah berpengaruh? Jawabannya tentu tidak. Jadi begitulah, masalah akan sangat menjengkelkan jika hati kita hanya sebesar gelas tapi tidak akan membawa pengaruh apa-apa jika kita mempunyai hati yang seluas danau."

Jadi, buat apa jengkel dengan masalah. Lapangkan saja hatimu hingga seluas danau dan selalu berdoa agar istiqamah. :)

Sincerely, Fauzya.


No comments:

Post a Comment